Menu

Menu1

coiga

Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) adalah organisasi profesi wartawan olahraga di Indonesia. SIWO Pusat sebagai induk dari 33 Pengurus Cabang Siwo Provinsi memiliki hampir 3.000 anggota dari media cetak, televisi dan online yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Inilah modal kekuatan SIWO dalam melakukan tugas jurnalistik dan melaksanakan peran dalam pembinaan olahraga di tanah air.

Rabu, 19 Februari 2014

BERITA DUKA CITA: Almarhum Supardi Saleh Akhirnya Dimakamkan Di Jakarta

SIWO PUSAT COM - Setelah melalui proses yang cukup panjang dan usaha keras dari para wartawan anggota Siwo Pusat dan Siwo Jaya akhirnya, jenazah almarhum Supardi Saleh bisa diantar ke Jakarta dari Pekalongan. Almarhum meninggal dunia di Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa, 18 Februari 2014, malam.


Saat menjalankan tugas meliput Kejuaraan Nasional Biliar, almarhum sempat terjatuh dan kemudian dilarihan ke rumah sakit. Namun jiwa almarhum tidak tertolong lagi. Jenazah almarhum malam ini disemayamkan di RS Bendan, Pekalongan.  Ketika itu ada rencana jenazah almarhum akan dimakamkan di Pekalongan. Namun berkat kerja keras rekan-rekan almarhum akhirnya jenazah beliu diantar ke Jakarta untuk dimakamkan di Ibukota.

Menurut keterangan Ketua Pokja Pelatihan Siwo Pusat, Mike Wangge,jenazah almarhum akan disemayamkan di Sekretariat Siwo PWI Jaya, Stadion Utama Gelora Bung Karno. Almarhum akan dimakamkan di di TPU Karet. Selamat jalan wartawan mungil, selamat jalan kawan, kami akan selalu mengenangmu.

Seluruh Pengurus SIwo PWI Pusat mengucapkan turut berbelasungkawa. Semoga arwah almahum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Berikut coretan rekan-rekan almarhum yang dikutip dari akun facebook:  


Cocomeo Cacamarica

Supardi Saleh SELAMAT JALAN, WARTAWAN TAHAN BANTING Mei 1986, Istora Senayan benar-benar tegang, saat partai kelima, antara Liem Swie King/Bobby Ertanto menghadapi pasangan Cina, Li Yong Bo/Tian Bing Yi, untuk menentukan siapa yang akan menjadi jawara dalam final Piala Thomas.
Didukung 10 ribu pendukung fanatik Indonesia benar-benar akhirnya dibuat menangis, setelah pasangan terakhir ini dihabisi dua set langsung 12 - 15 dan 9 - 15.

Tri Sutrisno, sebagai Ketua Umum PBSI sekaligus KASD saat itu sepertinya sangat muram dan gundah, mengingat dua tahun sebelumnya di Kualalumpur, Malaysia, membantai Cina di partai final dengan skor 4 - 1. Justru di depan publiknya sendiri, kalah tragis 2 - 3 atas Cina.

Para jurnalis bulutangkis, sepertinya mendekat ke Tri Sutrisno yang sedang memberi hiburan kepada Icuk Sugiarto, Lius Pongoh, Liem Swiss King dkk untuk tidak menangis dan menyesal. Kemudian ada pertanyaan dari Supardi Saleh, wartawan tahan banting dan selalu bernyali memberi pertanyaan kepada Tri Sutrisno, "Pak, dengan kekalahan Indonesia atas Cina, seharusnya bapak mundur sebagai ketua PBSI," demikian pertanyaan wartawan Sinar Harapan tersebut.

Lantas, apa yang terjadi. Tri Sutrisno seolah-olah tidak sengaja, justru mengjinjak kaki sang wartawan Supardi Saleh. Yang seolah-olah memberi tanda, bahwa Anda tidak pantas bertanya seperti itu. "Maaf pak, bapak nginjak kaki saya," demikian ucapan Supardi lirih, yang seolah-olah juga tak menyadari kemarahan jendral bintang empat itu.

Namun, Tri Sutrisno tidak melepaskan injakanannya ke sepatu Supardi Saleh. Namun dengan kebaranian yang gigih, kaki Supardi Saleh akhirnya terlepas, setelah Supardi dengan kerja keras untuk melepaskan dari ijakan jendral yang saat itu menjadi jendral kesayangan rezim Soeharto.

Kini, setelah pensiun dari Sinar Harapan, dan menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Bilyar itu, harus dipanggil oleh sang khalik, di saat bertugas menjadi panitia Bilyar di Pekalongan .

Menurut keterangan dari kawan-kawannya di Pekalongan, Mas Pardi meninggal dunia, karena terkena serangan jantung dalam usia 60 tahun. Sebagai wartawan yang selalu gigih membangun bulutangkis dan bilyar nasional ini, selalu rendah hati dan tak pernah punya mental untuk dikasihani. Sebagai pendiri majalah Bilyar yang diperuntukan untuk pebilyar itu selalu dibagikan secara gratis, setiap terbit. Sebuah gagasan yang sangat mulia dari Mas Pardi dan mempopulerkan olahraga bilyar.  

Ratu Dari Melawai

Mas Pardi sangat dikenal di kalangan wartawan olahraga berbagai negara di LN. Mereka selalu menanyakan, "where your friend Mr. Small Body?" ujar mereka bercanda..@copas sedih dari gunawan tarigan. 'Selamat jalan, wartawan senior Supardi Saleh'  


Cocomeo Cacamarica

Kepada Yth Seluruh Anggota SIWO PWI Jakarta dan Pusat

Baru saja teman-teman yang hotline dengan pihak Kapolres Pekalongan, sudah menyarankan agar Mas Pardi (Supardi Saleh) dimakamkan di Pekalongan, karena sampai malam ini (Rabu dini hari ini), tak satu pun sahabatn, kawan dekat tidak menemukan rekam jejak tempat tinggal Mas Pardi. Sehingga diputuskan dimakamkan di Pekalongan.

Sebaliknya, ada rekan-rekan wartawan berpendapat, bahwa Supardi Saleh itu adalah wartawan legenda, dan wartawan tiga jaman (79-an, 80-an dan 2000-an) yang memiliki dedikasi dan mendapat penghargaan kartu pers utama (Press Card Number One), saat HUT Hari Pers 2011, sepantasnya diberi pengahargaan dengan dimakamkan di Jakarta.

 Banyak sekali sahabat, kawan dekat dan juga lembaga SIWO PWI Pusat dan SIWO PWI Jaya, yang seharusnya siap mengurus jenazah untuk diberangkatkan ke Jakarta, dibandingkan harus dimakamkan di Pekalongan. Seolah-olah, kita-kita sebagai jurnalis tidak memberi tempat yang layak dan diurus yang layak.

Kami rekan-rekan sejawat ingin mengajak semua jurnalis olahraga, untuk tersentuh bahwa Mas Pardi itu pahlawan kita, para jurnalis. Mosok, harus direlakan dimakamkan di Pekalongan, hanya tak ada satu pun dari semua rekan-rekan sejawat tak mengetahui identitas alamatnya. Selagi lagi, mari kita singsingkan sejenak untuk sahabat, kawan dekat, wartawan senior kita. Amin.........!!!!  

Ratu Dari Melawai sudah dipastikan jika jenazah almarhum SUPARDI SALEH akan disemayamkan lebih dulu di sekretariat Siwo Jaya, Rabu sore ini, sebelum dikebumikan di TPU Karet. Jenazah almarhum saat ini dalam perjalanan darat dari Pekalongan....Mari ke Siwo  

E Barce Guevara

 Informasi terkini : Menurut rekan wartawan dari Semarang Ade Oesman, jenazah alm Supardi Saleh pagi ini jam 09.00 WIB dibawa via darat dari Pekalongan ke Jakarta dgn ambulance. Perjalanan normal memakan waktu sekitar 8/10 Jam.....  

Marah Sakti Siregar

 Ikut berduka atas berpulangnya sobat Supardi Saleh, wartawan senior bertubuh mungil, eks peliput olahraga andalan koran Sinar Harapan dan Suara Pembaruan, semalam, di Pekalongan. Semoga Allah mengampunimu dan menempatkan engkau di tempat terbaik di sisiNya, kawan. Aamiin. Inna lillahi wa inna ilayhi rooji'uun.  

E Barce Guevara

Sungguh saya tidak percaya, wartawan senior SIWO Jaya Supardi Saleh (60) meninggal tanpa diketahui tempat tinggal dan keluarganya.Sedari dulu saya memang tahu, mas Pardi menyembunyikan alamat dan keluarganya. Sungguh benar-benar teriris hati saya mendengar alm Mas Pardi harus dikubur di Pekalongan oleh panitia Kejuaraan Biliar tanpa dihadiri keluarga maupun semua teman2nya klg besar SIWO PWI Jaya.

Dua atau 3 tahun lalu saya secara tidak sengaja sempat bertemu Mas Pardi di Mangga Dua. Saya sedang makan siang di lantai dasar Mangga Dua Square..Tiba2 ada yg memanggil nama saya. " Barce, barce, barce ". Saya langsung berdiri dan menghampiri meja tempat dia makan. Saat itu dia mengatakan tinggal di sebuah apartemen di Mangga Dua...Selamat jalan Mas Supardi "anak" Saleh.........

 Sastra Wijaya

RIP Supardi Saleh (S-13) wartawan senior Indonesia, satu dari sedikit wartawan Indonesia yang sama terkenalnya dengan para pemain bulutangkis Indonesia di arena internasional. Di tahun 1970-1990-an bekerja untuk Harian Sinar Harapan dan kemudian Suara Pembaruan. Meninggal di Pekalongan hari Selasa, ketika meliput kejuaraan bilyar, bidang yang ditekuninya selama beberapa tahun terakhir.

Beberapa kali pernah meliput bersama ke kejuaraan bulutangkis All England di Wembley dan Birmingham di tahun 1990-an, Mas Pardi menjadi kamus berjalan mengenai berita terakhir seputar bulutangkis bagi kalangan wartawan asing dari Denmark, Inggris, Hongkong, Singapura dan Malaysia. "Bersaing" sehat dalam mencari berita bulutangkis ketika itu, namun Mas Pardi banyak diuntungkan dalam meliput kejuaraan bulutangkis di Eropa karena Sinar Harapan adalah koran sore di Indonesia, sehingga pertandingan berlangsung malam di Eropa masih bisa muncul di hari yang yang sama.

Orangnya ramah dan humoris. Terakhir kali saya bertemu di Pujasera (?) Sarinah Jakarta beberapa tahun lalu kebetulan ketika saya sedang bertugas di Indonesia.  

Djunaedi Tjunti Mas SUPARDI SALEH TELAH TIADA: Inna Lillah wa Inna Ilayhi Raji'oon. Telah pergi senior, sahabat, rekan kita Supardi Saleh, Selasa (18/2), saat menjalankan tugas, di Pekalongan, Jawa Tengah. Insya Allah, Rabu (19/2) almarhum disemayamkan di Sekretariat Siwo Jaya di Senayan, Jakarta. Selamat jalan Mas Pardi. Canda dan ketawamu selalu terbayang. Semoga Allah memberikan tempat yang layak pada Mas Pardi....(Pada gambar, Mas Supardi berdiri di barisan tengah di bawah tulisan PWI) Mas SUPARDI SALEH TELAH TIADA: Inna Lillah wa Inna Ilayhi Raji'oon. Telah pergi senior, sahabat, rekan kita Supardi Saleh, Selasa (18/2), saat menjalankan tugas, di Pekalongan, Jawa Tengah. Insya Allah, Rabu (19/2) almarhum disemayamkan di Sekretariat Siwo Jaya di Senayan, Jakarta. Selamat jalan Mas Pardi. Canda dan ketawamu selalu terbayang. Semoga Allah memberikan tempat yang layak pada Mas Pardi....(Pada gambar, Mas Supardi berdiri di barisan tengah di bawah tulisan PWI)  

Ratu Dari Melawai

Baru saja memperoleh kabar duka atas berpulangnya wartawan senior SUPARDI SALEH. Dikabarkan, Mas Pardi meninggal Selasa sore tadi di Pekalongan, Jateng, saat menghadiri/meliput kejuaraan biliar setempat. Selamat jalan juara tunggal putra antarpeliput Kejuaraan Dunia Bulutangkis 1991, Kopenhagen, Denmark. Semangatmu yg senantiasa membara adalah panutan... >>>> Kunjungi Sumber Asli

Tidak ada komentar:

Posting Komentar